Menjelang perayaan Idul Fitri 2025, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner camilan Lebaran menghadirkan berbagai inovasi produk. Tidak hanya mencerminkan perkembangan preferensi konsumen, tetapi juga menjadi strategi adaptasi pelaku usaha terhadap dinamika pasar.
Salah satu inovasi yang menonjol adalah diversifikasi rasa, di mana produsen mulai menawarkan varian rasa yang lebih beragam guna meningkatkan daya saing. Pelaku UMKM penjual camilan, Noni di Denpasar mengatakan, tidak hanya varian klasik, rasa manis pedas kini menjadi salah satu inovasi yang paling diminati oleh konsumen. Perubahan selera ini membuat pelaku UMKM terus berinovasi untuk menghadirkan produk yang lebih beragam.
“Variasi lebih ke camilan ringan dan rasa yang campur, karena orang kan ada yang tidak suka manis, tidak suka asin, tidak suka pedas, jadi seleranya berbeda,” ujarnya pada Selasa (25/03/2025).
Selain inovasi rasa, harga camilan Lebaran juga bervariasi sesuai jenis dan bahan baku yang digunakan. Camilan dengan harga terjangkau mulai dari Rp6.000 per bungkus tetap menjadi pilihan bagi masyarakat, sementara produk premium seperti kacang-kacangan dijual hingga Rp55.000 per kilogram.
Harga yang lebih tinggi umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan berkualitas dan kemasan yang lebih eksklusif. Noni menambahkan meskipun omzet penjualan pada hari ke-25 Ramadan masih cenderung stabil, lonjakan permintaan biasanya terjadi dalam 10 hari terakhir menjelang Lebaran.
“Harga paling murah Rp 6000 jenis singkong dan camilan ringan lain, kalau paling tinggi Rp 55.000/kg itu jenis kacang,” sambung Noni.
Pertumbuhan sektor UMKM diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian lokal jelang lebaran, tetapi juga mendorong perkembangan industri kuliner nasional yang lebih inovatif dan berkelanjuta